FULLDAY, FULL OF LIFE

E n t a h, harus miris ataukah bahagia. Diumur-umur segitu dulu dengan waktu pulang yang menurut orang sekarang “pulang pagi” jujur, aku masih merasa kewalahan dengan tugas sebegitu banyaknya.

Dulu juga sempat mengeluh, tapi saat mengingat lagi yang ada malah bersyukur dengan apa yang didapat dulu. Sekarang, lagi gencar-gencarnya masalah fullday, coba bapakibu mengingat-ingat kembali masa sekolah. Bukan, bukan masalah zamannya yang semakin maju juga mewajibkan sekolah semakin sore pula. Mungkin beberapa orang bilang, “terus apa bedanya sekolah dengan kerja kantoran?”

Mereka bekerja untuk mendapat uang, kita sekolah untuk mendapat ilmu. Eitss, jangan salah. Mereka yang bekerja bukan hanya untuk mendapatkan uang tapi mereka juga mendapat ilmu dari pengalaman dari waktu ke waktu. Coba bapak ibu ingat-ingat kembali, zaman-zaman SD SMP SMA yang pulang sekolah bukannya malah tidur siang tapi malah asyik main-main di sungai, main di lapangan, tertawa sejenak melupakan ketegangan setelah bersekolah. Kita juga menginginkannya pak buk, kita juga butuh waktu-waktu untuk sekedar meregangkan otot, bahkan sekadar bercanda gurau dengan orang tua di rumah.

Mungkin, dengan adanya kebijakan baru ini bapak ibu menginginkan kita menjadi generasi penerus bangsa yang kaya akan ilmu. Tapi mungkin, bapak ibu juga harus mempertimbangkan keadaan psikis kita, terlalu lama dalam ketegangan juga tidak baik.

Perihal belajar, belajar bukan terpatok pada satu ruangan dan satu waktu yang mengharuskan siswanya diam mendengarkan guru dan berbicara seperlunya, karena sesungguhnya belajar tidak pernah usai sampai kita benar-benar usai dari dunia ini.

-sabda di ujung senja-

Superman menikmati senja

Mungkin kita pandai dalam merangkai kata, memadukan kalimat, memaknai suatu sabda, bahkan cerdas dalam meniadakan yang ada. Tapi, ternyata kita telah melewati suatu hal. Memutuskan hidup kita sendiri, memilih jalan hidup kita. Seandainya, hidup ini sama seperti sabda-sabda indah itu, aku bahkan hanya ingin merebahkan tubuhku ke dalam kelembutan setiap katanya. Tapi sayangnya, sabda itu malah menjadi cambuk untuk bangun dan terus memaksa memilih pilihan yang disediakan hidup. Terus mengalah dan terus memilih, atau hanya malah menjadi pilihan (?)

-sabda di ujung senja-